Sumpah Pemuda, Hari Pertambangan dan Energi, & semangat perubahan

Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata “28 Oktober”? Saya rasa mungkin kebanyakan orang berpikir “Hari Sumpah Pemuda”. Dan langsung saja ingatan ini melayang pada memori masa kanak, deretan tahun serta tanggal yang harus dihapal dengan gambaran samar masa perjuangan serta foto-foto buram yang (nampaknya) itu-itu saja di buku cetak sejarah yang tebalnya hampir seperti buku Yellow Pages, wajah guru sejarah yang datar dan benar-benar “bersejarah” (baca: tua) yang seolah ia menjadi saksi di semua kejadian dalam buku itu, belum lagi fakta bahwa sebenarnya sejarah yang kita pelajari semasa di bangku sekolah merupakan “sejarah penguasa” yang masih diragukan kebenarannya.

Benar, pada tanggal itu di tahun 1928, para pemuda-pemudi Indonesia menyatakan sumpahnya. Meninggalkan “baju daerah” dan “warna” mereka, dan kemudian melebur menjadi dwi-warna yang tunggal: MERAH PUTIH. Di masa itu merupakan sebuah pergerakan yang sangat frontal, masif, dan tentunya sangat modern. Sebuah pergerakan yang menjadi “cetak-biru” lahirnya sebuah konsep persatuan dalam format modern.

Kebetulan malam itu saya menonton TV. Saat saya setel TVRI jam 18.30 (setelah rebutan remote sama ponakan yang mau nonton Bernard Bear di TPI šŸ™‚ ) ternyata ada acara tentang sejarah pertambangan dan energi di Indonesia. Kebetulan saya bekerja di sektor energi, dan tayangan ini saya yakin sedikit banyak akan menambah pengetahuan saya tentang sejarah energi di Indonesia.

Semua bermula saat jaman pendudukan Belanda di Indonesia. Pada abad 18, Belanda sedang gencar untuk mencari sumber energi. Hal ini dipicu karena pengaruh Revolusi Industri di Inggris pada abad 18 – 19. Mulailah Belanda ekspansi dan mendayagunakan negara koloni untuk mendapatkan sumber energi ini.

Indonesia sebagai koloni Belanda saat itu tak luput dari masa ini. Banyak peneliti dari Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk melakukan penelitian dan mengeksplorasi sumber energi di berbagai wilayah Nusantara. Hampir semua peneliti didatangkan dari benua Eropa, orang pribumi saat itu hanya menjadi buruh kasar (pernyataan yang sangat mengganggu. Apakah saat ini orang pribumi sudah bukan menjadi buruh di negeri sendiri? šŸ™‚ ).

Semua berubah saat masa Perang Dunia II. Belanda merasa kekurangan tenaga peneliti karena banyaknya sumber energi yang harus digunakan untuk kebutuhan perang. Mulailah Belanda merekrut pribumi untuk dijadikan asisten bidang geologi. Dari sini dipilihlah 2 orang inlander yang pada akhirnya merubah wajah dunia pertambagan dan energi Indonesia, 2 orang pribumi sederhana yang tidak memiliki ambisi apapun pada awalnya. Mereka adalah Arie Frederick Lasut dan R. Sunu Soemosoesastro.

Arie Frederick Lasut

Arie Frederick Lasut

Raden Soenoe Soemosoesastro

R. Soenoe Soemosoesastro

Mereka memulai karir sebagai asisten geologi di Dienst van den Mijnbouw di Bandung pada tahun 1941, sesaat setelah mereka menyelesaikan pendidikan asisten geologi.

Tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia. Semua aset Belanda diakuisisi oleh Jepang, termasuk Dienst van den Mijnbouw. Namanya diubah menjadi Kogyo Zimusho lalu berubah lagi menjadi Sangyobu Chishitsuchosacho. Keadaan ini berlangsung hingga kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya sebulan setelah hari kemerdekaan, Arie dan Sunu serta beberpa pemuda lain mengambilalih kantor Chishitsuchosacho dari penguasa Jepang. HANYA SEBULAN DARI HARI KEMERDEKAAN INDONESIA. Bersamaan dengan pengambilalihan ini, dibentuklah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG) yang berpusat di kantor yang sama dengan Chishitsuchosacho (di Rembrandt Straat, Bandung). Arie menjadi kepala PDTG, dan Sunu sebagai wakil.

Kurun waktu perang kemerdekaan (1945 – 1949), Arie dan Sunu dan para pegawai PDTG turut ambil bagian dalam mempertahankan PDTG yang ingin direbut kembali oleh Belanda yang dibantu tentara sekutu. Keadaan ini mendesak mereka untuk beberapa kali memindahkan kantor PDTG: dari Rembrandt Straat ke Jalan Braga, lalu ke Tasikmalaya dan Solo, kemudian pindah lagi ke Magelang, hingga akirnya ke Yogyakarta pada Nopember 1947.

Saat itu Arie adalah sekaligus menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan sering melakukan perundingan-perundingan dengan Belanda. Tapi naas, ia diculik dan ditembak mati oleh Belanda pada tanggal 7 Mei 1949 di daerah Kaliurang, Yogyakarta, bertepatan dengan pelaksanaan perjanjian Roem-Royen di Batavia. Saat itu umurnya 35 tahun, dan ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Pasca wafatnya Arie, Sunu mengambil alih tanggungjawab menjadi kepala PDTG. Ia sempat dipenjara 3 hari oleh Belanda karena alasan yang tidak jelas. Setelah itu ia memutuskan untuk tidak ingin lagi menjadi kepala PDTG, dan memutuskan untuk melanjutkan studinya di program sarjana geologi Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Ilmu Alam, Universitas Indonesia Cabang Bandung (sekarang ITB). Tapi sayang niatnya belum terpenuhi karena Sunu wafat tanggal 2 Maret 1956. Saat itu ia berumur 42 tahun.

Tayangan acara di atas diputar saat hari Sumpah Pemuda, dan ini momen yang sangat tepat. Selain itu juga pemerintah menetapkan hari Pertambangan dan Energi tiap tanggal 28 September.

Dari mereka, saya benar-benar banyak mengambil pelajaran. Mereka dengan gigihnya merebut kantor Chishitsuchosacho dari penguasa Jepang dan membentuk PDTG hanya dalam kurun 1 bulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat itu Arie berumur 32 tahun dan Sunu 31 tahun. Pemuda-pemuda penuh semangat dan pemberani inilah yang membentuk wajah dunia pertambangan dan energi Indonesia saat ini.

Saya jadi ingat gedung Fakultas saya dulu kuliah diberi nama “Gedung A. F. Lasut”. Saat itu saya sebagai mahasiswa tidak terlalu ambil pusing tentang siapa A. F. Lasut ini, bagaimana perjuangannya, dan apa yang sudah ia berikan untuk kemajuan bidang energi Indonesia. Saya yang apatis dan berkacamata kuda saat itu hanya memikirkan bagaimana saya secepatnya bisa lulus kuliah dan bekerja. Hanya itu. Duh jadi malu… šŸ˜¦

Sudah tak terhitung para penerus Arie dan Sunu saat ini, para penerus yang berkecimpung di bidang yang mereka geluti pada masa itu HINGGA AKHIR HAYAT. Dengan kondisi yang sudah jauh berbeda (terutama yang berkaitan dengan teknologi) seharusnya kami, para penerus mereka, bisa memberikan yang jauh lebih baik lagi. Apakah cita-cita ideal mereka sudah tercapai saat ini? Entah. Saya berani mengatakan bahwa saya adalah penerus mereka, tetapi saya belum berani untuk berbangga diri sebagai penerus mereka karena belum ada yang bisa saya berikan.

Di luar itu semua, saya yakin para penerus ini akan melanjutkan cita-cita Arie dan Sunu. Akan ada suatu masa di mana Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dengan anak-anak bangsa yang berada di garis depan di bidang energi dan pertambangan, tentunya dengan semangat yang sama untuk kemajuan bersama masa ini dan masa depa.

Kita sudah punya sumber daya alam yang berlimpah untuk ini, modal awal yang tidak boleh disia-siakan, lalu apa lagi yang harus ditunggu?

Advertisements

About wiwidwitjaksono

An optimistic dreamer // Books and musics // Photography // Converse shoe // Master Degree wannabe // Coverall, safety boots, hard hat // (your name here)
This entry was posted in Geologist gadungan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sumpah Pemuda, Hari Pertambangan dan Energi, & semangat perubahan

  1. Herman says:

    Boleh minta anda untuk menulis mengenai Soenoe dan Lasut di Berita IAGI?
    Terima kasih,

    • Pak Herman,

      Saya sangat berterima kasih sekali untuk tawaran bapak pada saya untuk menulis tentang Soenoe dan Lasut di Berita IAGI.

      Apakah ada syarat atau format tertentu untuk tulisan nya pak?

      Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s