Book review of A Field Description of Sedimentary Rocks (Geological Society of London Professional Handbook)

<a href=”http://www.goodreads.com/book/show/2334613.A_Field_Description_of_Sedimentary_Rocks&#8221; style=”float: left; padding-right: 20px”><img alt=”A Field Description of Sedimentary Rocks (Geological Society of London Professional Handbook)” border=”0″ src=”http://www.goodreads.com/images/nocover-111×148.jpg&#8221; /></a><a href=”http://www.goodreads.com/book/show/2334613.A_Field_Description_of_Sedimentary_Rocks”>A Field Description of Sedimentary Rocks</a> by <a href=”http://www.goodreads.com/author/show/480441.Maurice_E_Tucker”>Maurice E. Tucker</a><br/>
My rating: <a href=”http://www.goodreads.com/review/show/131436222″>4 of 5 stars</a><br /><br />
This book was my guide book when I’m doing the final assignment. It’s so handy and give all information about sedimentary rocks in practical way. Highly recommended to everyone in field who wants to know more about sedimentary rocks. Thanks to my advisor for giving me such a good book, for free. 🙂
<br/><br/>
<a href=”http://www.goodreads.com/review/list/4551451-wiwid-witjaksono”>View all my reviews</a>

Posted in Bookworm, Geologist gadungan | Leave a comment

Rahuvana Tattwa (Review)

Rahuvana TattwaRahuvana Tattwa by Agus Sunyoto
My rating: 4 of 5 stars

Liat novel ini secara gak sengaja di rak “buku diskon” di toko buku Toga Mas Yogya. Saat liat ringkasan cerita di belakang buku, saya langsung menyimpulkan ini buku yang BERBEDA. Saya suka buku-buku yang bercerita tentang orang2 terpinggirkan, orang-orang marjinal yang disisihkan karena kepentingan penguasa atau kaum mayoritas.
Buku ini menceritakan tentang epos Ramayana, tetapi dalam prespektif Rahwana. Rama, yang selama ini kita kenal sebagai tokoh protagonis, di novel ini menjadi tokoh antagonis. Ini adalah tafsir kritis dari epos Ramayana. Semua yang kita ketahui tentang epos ini ternyata sangat berbeda di dalam novel ini. Dan penulis menyertakan sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, tertulis semua di halaman daftar pustaka di akhir halaman.
Buku yang sangat menarik!

View all my reviews

Posted in Bookworm | Leave a comment

Supernova: Petir (Review)

Supernova: Petir (Book 3)Supernova: Petir by Dee
My rating: 5 of 5 stars

Satu hal yang pasti tentang buku ini: INI ADALAH NOVEL TERLUCU YANG PERNAH SAYA BACA SELAMA INI. Saat saya mulai membaca, saya tak bisa berhenti untuk tergelitik dan terkikik dengan rangkaian kata dan alur yang unik dari novel ini. “Lucu” yang saya maksud di sini adalah dari sudut pandang yang berbeda. Lebih bersifat lucu yang sarkastik-sinis, bukan seperti lucu saat kita membaca novel Lupus atau yang sejenis.

Sedikit flashback, saya termasuk golongan pembaca Supernova series secara terbalik, yaitu saya mulai membaca Petir; lalu Akar; dan terakir Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Tapi itu tak membuat saya jadi bingung dan lost saat membaca, karena ketiga seri tersebut memang memiliki benang merah tetapi di tiap seri nya memiliki “tubuh” sendiri. “Tersambung” di satu sisi tapi “terpisah” di sisi yang lain. Mungkin benang merahnya ada pada tokoh di tiap seri tersebut, yang kemudian muncul atau disebut kembali di seri selanjutnya.

Buku ini menceritakan tentang karakter utama yang bernama Elektra, seorang wanita keturunan Tionghoa yang tinggal di Bandung bersama ayah dan kakak perempuannya yang bernama Watti. Diceritakan sejak kecil Etra (panggilan kecil Elektra) menjadi bayang-bayang Watti. Sampai Etra menganggap Watti sebagai “CiCa” (Cina Cantik) dan dirinya sebagai “CiA” (Cina Aja). Setelah dewasa, Watti menikah dengan seorang dokter yang bekerja di Freeport, Papua. Watti menikah tak berapa lama setelah ayah mereka meninggal. Tinggalah Elektra sendirian. Di dalam kesendirian dan kebingungannya itu, ia akirnya menjadi murid dari seorang healer keturunan India bernama Sati. Dari Sati lah Elektra belajar membuka diri dan mencoba untuk melihat potensi yang ada pada dirinya. Hingga ia bertemu dengan kawan lamanya dan mencoba membuka usaha di bidang warnet di rumahnya, dan akirnya usaha mereka pun maju pesat.

Pemilihan kata dan format penulisan yang unik dari novel ini menjadi daya tarik utama. Sejak saat itu, saya berniat untuk membaca semua seri Supernova.

View all my reviews

Posted in Bookworm | Leave a comment

Ayat Ayat Cinta (Review)

Ayat-ayat CintaAyat-ayat Cinta by Habiburrahman El Shirazy
My rating: 4 of 5 stars

Sebuah kisah cinta yang menarik, dengan setting tempat di Mesir dan digambarkan dengan sangat detil. Menggambarkan perjalanan hidup sorang mahasiswa Al-Azhar Kairo asal Indonesia, bernama Fahri, yang sangat memegang teguh ajaran Islam di dalam kehidupannya. Hingga banyak wanita yang jatuh hati padanya karena keteguhan prinsip dan lembut sifatnya, tak hanya oleh wanita asal Indonesia saja, hingga wanita Mesir pun menaruh rasa kagum pada Fahri.

Alur cerita yang berurut, konflik yang menyita perhatian, dan penokohan dengan karakternya yang kuat membuat saya ingin mengetahui lebih lanjut apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam cerita. Tetapi ada sedikit kekurangan menurut saya. Karakter Fahri di sini digambarkan “sangat sempurna”, seolah tak ada cela dan selalu berbuat baik pada sesama dan selalu rajin beribadah. Justru penggambaran yang terlalu sempurna ini menyebabkan tokoh menjadi tidak real dan jauh dari penggambaran karakter sehari-hari manusia “normal”. Kesempurnaannya sekaligus menjadi kecacatannya. Tapi secara keseluruhan, novel ini menarik untuk di baca dan membuka wawasan baru dalam dunia sastra Indonesia.

View all my reviews

Posted in Bookworm | Leave a comment

Doa yang merenung, merenung dengan doa…

Tak hentinya aku mengucap syukur padaMu ya Rabb, yang telah memberiku kesehatan maksimal untuk melalui beberapa hari ini yang penuh kegilaan, kelelahan, kekecewaan, kebahagiaan, keputusasaan, harapan, emosi, derai tawa, muram durja, (sedikit) air mata, konsentrasi, peluh, dan keringat.

Dan terimakasih juga padaMu yang telah memberikan situasi ini. Manusia tidak akan pernah tahu sampai mana batas ketahanan dan kemampuan mereka tanpa ujian dariMu. Dan hal ini pula menjadi pengingat bahwa kita diberi anugerah yang amat berharga yang disebut dengan AKAL (konon ini yang membuat kita disebut “makhluk paling sempurna”. Benarkah?).

Ampuni aku ya Rabb, mungkin di satu waktu pada masa lalu aku pernah mendiskreditkan peluang baru ini. Saat itu aku bukan berpikir untuk menolak ini semua, aku hanya berpikir belum saatnya untuk mencoba peluang ini. Mungkin saat inilah waktunya? Saya entah, hanya berpikir untuk saat ini (dan semoga seterusnya) benar-benar berusaha maksimal untuk semua peluang yang ada.

Ampuni aku pula ya Rabb yang sempat meletupkan emosi tak berarti dalam menghadapi situasi ini. Dan ini pula yang membuatku bersyukur bahwa aku masih hidup dan normal (bagaimanapun, saya tetap manusia) yang tak luput dari hal yang bersifat badaniah ini. Emosi ibarat deposit sperma, bagaimanapun dan dengan cara apapun harus keluar jika sudah menumpuk (dipaksa keluar atau keluar dengan sendirinya).

Aku meletupkan emosiku saat itu karena aku yakin memang sudah saatnya untuk keluar. Memang aku berada di posisi yang salah, dan aku pun telah meminta maaf dan berusaha untuk mencari pemecahan masalah. Tapi bukan berarti aku bisa ditekan dan selalu disalahkan terus menerus dan selalu dihujani dengan “tanda seru” kan, ya Rabb? Karena kami tahu resiko apa yang akan terjadi jika rencana ini tidak berjalan dengan mulus. Ampunilah kami semua yang terkait dalam hal ini, ya Rabb. Bukakan pintu hati kami dan jernihkanlah pikiran kami serta dinginkanlah hati kami yang sedang panas.

Di atas semua itu, aku yakin Engkau tidak akan pernah menguji manusia di luar batas kemampuan. Engkau telah menakar dengan tepat tingkat kesulitan ujian untuk tiap manusia. Dan aku benar-benar besyukur bahwa masih banyak manusia yang diuji lebih berat dibanding keadannku saat ini. Dan selalu yakinkanlah aku bahwa tak ada ujian yang tak bisa dilewati dengan izinMu, ya Rabb.

Seorang teman pernah bertanya padaku apakah aku percaya tentang karma, aku jawab tidak. Aku percaya semua ini Engkau yang mengatur. Tapi, bagaimanapun juga, konsep karma diberikan agar kita selalu berbuat baik terhadap segala makhluk agar kita tidak mendapat hal yang tidak diinginkan jika kita berbuat tidak baik sebagai balasan atas hal yang sudah kita lakukan. Ampuni aku ya Rabb apabila di satu waktu pada masa lalu aku pernah lupa melakukan ini pada orang lain. Khilaf, lupa, tak sengaja mungkin bisa menjadi eksplanasi yang “dibenarkan” atas nama manusia.

Hidup ini ibarat naik kereta api. Kita bisa bebas pindah ke gerbong manapun, maju ke gerbong depan, mundur ke gerbong belakang, berdiri di antara sambungan gerbong, di dalam toilet kereta, istirahat di gerbong restorasi sambil mengisi perut. Tapi kita tidak pergi kemana-mana, dan Sang Masinis di dalam lokomotif tetap melaju membawa kita sambil sesekali membunyikan Peluit Peringatan agar kita tetap sadar bahwa kita masih berada dalam perjalanan.

Bimbinglah aku, ya Rabb…

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Sumpah Pemuda, Hari Pertambangan dan Energi, & semangat perubahan

Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata “28 Oktober”? Saya rasa mungkin kebanyakan orang berpikir “Hari Sumpah Pemuda”. Dan langsung saja ingatan ini melayang pada memori masa kanak, deretan tahun serta tanggal yang harus dihapal dengan gambaran samar masa perjuangan serta foto-foto buram yang (nampaknya) itu-itu saja di buku cetak sejarah yang tebalnya hampir seperti buku Yellow Pages, wajah guru sejarah yang datar dan benar-benar “bersejarah” (baca: tua) yang seolah ia menjadi saksi di semua kejadian dalam buku itu, belum lagi fakta bahwa sebenarnya sejarah yang kita pelajari semasa di bangku sekolah merupakan “sejarah penguasa” yang masih diragukan kebenarannya.

Benar, pada tanggal itu di tahun 1928, para pemuda-pemudi Indonesia menyatakan sumpahnya. Meninggalkan “baju daerah” dan “warna” mereka, dan kemudian melebur menjadi dwi-warna yang tunggal: MERAH PUTIH. Di masa itu merupakan sebuah pergerakan yang sangat frontal, masif, dan tentunya sangat modern. Sebuah pergerakan yang menjadi “cetak-biru” lahirnya sebuah konsep persatuan dalam format modern.

Kebetulan malam itu saya menonton TV. Saat saya setel TVRI jam 18.30 (setelah rebutan remote sama ponakan yang mau nonton Bernard Bear di TPI 🙂 ) ternyata ada acara tentang sejarah pertambangan dan energi di Indonesia. Kebetulan saya bekerja di sektor energi, dan tayangan ini saya yakin sedikit banyak akan menambah pengetahuan saya tentang sejarah energi di Indonesia.

Semua bermula saat jaman pendudukan Belanda di Indonesia. Pada abad 18, Belanda sedang gencar untuk mencari sumber energi. Hal ini dipicu karena pengaruh Revolusi Industri di Inggris pada abad 18 – 19. Mulailah Belanda ekspansi dan mendayagunakan negara koloni untuk mendapatkan sumber energi ini.

Indonesia sebagai koloni Belanda saat itu tak luput dari masa ini. Banyak peneliti dari Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk melakukan penelitian dan mengeksplorasi sumber energi di berbagai wilayah Nusantara. Hampir semua peneliti didatangkan dari benua Eropa, orang pribumi saat itu hanya menjadi buruh kasar (pernyataan yang sangat mengganggu. Apakah saat ini orang pribumi sudah bukan menjadi buruh di negeri sendiri? 🙂 ).

Semua berubah saat masa Perang Dunia II. Belanda merasa kekurangan tenaga peneliti karena banyaknya sumber energi yang harus digunakan untuk kebutuhan perang. Mulailah Belanda merekrut pribumi untuk dijadikan asisten bidang geologi. Dari sini dipilihlah 2 orang inlander yang pada akhirnya merubah wajah dunia pertambagan dan energi Indonesia, 2 orang pribumi sederhana yang tidak memiliki ambisi apapun pada awalnya. Mereka adalah Arie Frederick Lasut dan R. Sunu Soemosoesastro.

Arie Frederick Lasut

Arie Frederick Lasut

Raden Soenoe Soemosoesastro

R. Soenoe Soemosoesastro

Mereka memulai karir sebagai asisten geologi di Dienst van den Mijnbouw di Bandung pada tahun 1941, sesaat setelah mereka menyelesaikan pendidikan asisten geologi.

Tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia. Semua aset Belanda diakuisisi oleh Jepang, termasuk Dienst van den Mijnbouw. Namanya diubah menjadi Kogyo Zimusho lalu berubah lagi menjadi Sangyobu Chishitsuchosacho. Keadaan ini berlangsung hingga kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya sebulan setelah hari kemerdekaan, Arie dan Sunu serta beberpa pemuda lain mengambilalih kantor Chishitsuchosacho dari penguasa Jepang. HANYA SEBULAN DARI HARI KEMERDEKAAN INDONESIA. Bersamaan dengan pengambilalihan ini, dibentuklah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG) yang berpusat di kantor yang sama dengan Chishitsuchosacho (di Rembrandt Straat, Bandung). Arie menjadi kepala PDTG, dan Sunu sebagai wakil.

Kurun waktu perang kemerdekaan (1945 – 1949), Arie dan Sunu dan para pegawai PDTG turut ambil bagian dalam mempertahankan PDTG yang ingin direbut kembali oleh Belanda yang dibantu tentara sekutu. Keadaan ini mendesak mereka untuk beberapa kali memindahkan kantor PDTG: dari Rembrandt Straat ke Jalan Braga, lalu ke Tasikmalaya dan Solo, kemudian pindah lagi ke Magelang, hingga akirnya ke Yogyakarta pada Nopember 1947.

Saat itu Arie adalah sekaligus menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan sering melakukan perundingan-perundingan dengan Belanda. Tapi naas, ia diculik dan ditembak mati oleh Belanda pada tanggal 7 Mei 1949 di daerah Kaliurang, Yogyakarta, bertepatan dengan pelaksanaan perjanjian Roem-Royen di Batavia. Saat itu umurnya 35 tahun, dan ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Pasca wafatnya Arie, Sunu mengambil alih tanggungjawab menjadi kepala PDTG. Ia sempat dipenjara 3 hari oleh Belanda karena alasan yang tidak jelas. Setelah itu ia memutuskan untuk tidak ingin lagi menjadi kepala PDTG, dan memutuskan untuk melanjutkan studinya di program sarjana geologi Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Ilmu Alam, Universitas Indonesia Cabang Bandung (sekarang ITB). Tapi sayang niatnya belum terpenuhi karena Sunu wafat tanggal 2 Maret 1956. Saat itu ia berumur 42 tahun.

Tayangan acara di atas diputar saat hari Sumpah Pemuda, dan ini momen yang sangat tepat. Selain itu juga pemerintah menetapkan hari Pertambangan dan Energi tiap tanggal 28 September.

Dari mereka, saya benar-benar banyak mengambil pelajaran. Mereka dengan gigihnya merebut kantor Chishitsuchosacho dari penguasa Jepang dan membentuk PDTG hanya dalam kurun 1 bulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat itu Arie berumur 32 tahun dan Sunu 31 tahun. Pemuda-pemuda penuh semangat dan pemberani inilah yang membentuk wajah dunia pertambangan dan energi Indonesia saat ini.

Saya jadi ingat gedung Fakultas saya dulu kuliah diberi nama “Gedung A. F. Lasut”. Saat itu saya sebagai mahasiswa tidak terlalu ambil pusing tentang siapa A. F. Lasut ini, bagaimana perjuangannya, dan apa yang sudah ia berikan untuk kemajuan bidang energi Indonesia. Saya yang apatis dan berkacamata kuda saat itu hanya memikirkan bagaimana saya secepatnya bisa lulus kuliah dan bekerja. Hanya itu. Duh jadi malu… 😦

Sudah tak terhitung para penerus Arie dan Sunu saat ini, para penerus yang berkecimpung di bidang yang mereka geluti pada masa itu HINGGA AKHIR HAYAT. Dengan kondisi yang sudah jauh berbeda (terutama yang berkaitan dengan teknologi) seharusnya kami, para penerus mereka, bisa memberikan yang jauh lebih baik lagi. Apakah cita-cita ideal mereka sudah tercapai saat ini? Entah. Saya berani mengatakan bahwa saya adalah penerus mereka, tetapi saya belum berani untuk berbangga diri sebagai penerus mereka karena belum ada yang bisa saya berikan.

Di luar itu semua, saya yakin para penerus ini akan melanjutkan cita-cita Arie dan Sunu. Akan ada suatu masa di mana Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dengan anak-anak bangsa yang berada di garis depan di bidang energi dan pertambangan, tentunya dengan semangat yang sama untuk kemajuan bersama masa ini dan masa depa.

Kita sudah punya sumber daya alam yang berlimpah untuk ini, modal awal yang tidak boleh disia-siakan, lalu apa lagi yang harus ditunggu?

Posted in Geologist gadungan | 2 Comments

Mengapa Erupsi Merapi 2010 Lebih Cepat & Bahaya Dibanding 2006

Jakarta – Letusan Merapi pada 2010 ini lebih cepat dan berbahaya dibanding peristiwa yang sama terjadi pada 2006 lalu. Jarak penetapan status Awas dan erupsinya tak kurang dari 35 jam. Mengapa hal itu terjadi?

“Ada perbedaan akumulasi energi. Bentuk puncak juga berbeda karena itu erupsinya lebih besar dan lebih cepat, juga risiko lebih besar,” ujar vulkanolog dari Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Dr Eko Teguh Paripurno, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (28/10/2010).

Pada 2006, tidak ada bukaan kawah di bagian selatan Merapi. Namun pada 2010 ini, bukaan itu ditemukan. Padahal jarak Kaliadem yang dekat pemukiman penduduk ke arah puncak sekitar 4 km.

“Dengan begitu risikonya lebih tinggi. Yang di sebelah selatan harus lebih waspada karena lebih dapat luncuran,” sambung dia.

Pria berkacamata ini memperkirakan erupsi Merapi saat ini memiliki tipe vulcano murni yang letusannya cenderung vertikal dan pola letusannya menyembur ke berbagai arah.

Dibanding kondisi Merapi 2006, energi Merapi yang terkumpul saat ini lebih besar. Karena itu prosesnya cepat dan volume lavanya banyak. “Kalau tadinya 3-4 km (jarak guguran lava) sekarang puluhan kilometer. Dan kita nggak tahu sudah selesai atau belum (pengeluaran energi). Jadi kita tunggu dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian,” terang dia.

Saat erupsi pada 2006, terbentuk kubah lava. Hal itu sebagai akibat adanya energi berkekuatan sedang yang dimiliki Merapi, sehingga magma disisipkan ke luar gunung menjadi kubah. Biasanya kubah lava tidak stabil sehingga longsor. Ketika terjadi guguran kubah lava itulah terjadi awan panas.

“Kalau sekarang tidak terjadi kubah lava, sehingga yang terjadi adalah erupsi umum (letusan), bukan kubah lava,” kata pria yang akrab disapa Kang ET ini.

Status Awas Merapi ditetapkan pada Senin (25/10) pukul 06.00 WIB dan gunung meletus esok harinya pada pukul 17.02 WIB. Sedangkan pada 2006, saat Mbah Maridjan moncer untuk pertama kalinya, jarak Awas dan erupsi makan waktu berhar-hari. Korban tewas kala itu ada 2 orang, sedangkan tahun ini di Sleman ada 32 orang, termasuk Mbah Maridjan (83). Jika dihitung dengan korban di Magelang, total ada 33 orang.

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/10/28/114858/1477398/10/mengapa-erupsi-merapi-2010-lebih-cepat-bahaya-dibanding-2006?n991102605

Posted in Geologist gadungan | Leave a comment